Latest Entries »

kamus internet

bagi yang butuh kamus atau istilah untuk intrernet silahkan dowload kilk di sini  untuk dowload file

YUI

Yui (ditulis YUI) (lahir di Fukuoka, Prefektur Fukuoka, 26 Maret 1987; umur 23 tahun) adalah penyanyi wanita dan pencipta lagu asal Jepang. Yui tampil bernyanyi sambil memainkan gitar, dan dua dari lagunya, “Life” dan “Rolling Star” menjadi lagu pembuka dan penutup seri ke-5 serial anime Bleach. Album pertamanya, From Me To You dirilis 22 Februari 2006, terdiri dari 13 lagu dan 9 lagu di antaranya belum pernah dirilis sebelumnya.

Profil

  • Zodiak : Aries
  • Shio : Kelinci
  • Hobi : Menonton film, membaca buku, bermain bulu tangkis
  • Tinggi badan : 155 cm
  • Golongan darah : AB
  • Tempat favorit : pantai Shingu di Fukuoka


Karier

Yui memulai menulis lirik lagunya sendiri sewaktu di kelas 3 SMP. Yui sangat bercita-cita menjadi penyanyi, dan pergi ke mana-mana dengan selalu membawa gitarnya. Sewaktu SMA, ia sering menyaksikan pertunjukan grup musik bianco nero di jalanan, dan memutuskan untuk berhenti sekolah. Yui mulai belajar menyanyi, menulis lagu, dan memainkan gitar di kursus musik kota Fukuoka.

Sambil bersila di atas kasur, Yui memainkan gitarnya dan menulis lagu pertama yang diberi judul “Why me”.[1] Setelah itu, ia mulai menyanyi di pinggir jalan di kawasan Tenjin, Fukuoka[2] sebagai atraksi pembuka bagi teman satu tempat kursus musik.[1]

Bulan Maret 2004, Yui mengikuti audisi “SD Audition” yang diadakan Sony Music Japan. Dari 20 ribu peserta hanya 10 orang yang tersisa termasuk Yui. Duduk menyilangkan kaki di lantai, Yui bernyanyi sambil memetik gitar. Lagu yang dibawakannya waktu itu sebanyak 3 buah lagu, “Why me”, “It’s happy line”, dan “I know”. Finalis hanya boleh membawakan 2 buah lagu menurut peraturan audisi, tapi juri memberikan nilai yang sangat tinggi bagi Yui. Setelah itu, berbagai perusahaan rekaman menjadi saling berebut untuk mengontraknya. Lagu pertama yang dinyanyikan, “Why Me” nantinya dijadikan single perdana, diikuti dengan “It’s Happy Line” dan “I Know”. Keduanya diterbitkan sebagai singel indie debutnya, “It’s Happy Line” dengan lagu “I Know” di sisi B.

Sebagai penghargaan kepada kampung halamannya, Yui menulis lagu “Feel My Soul” ketika meninggalkan kampung halamannya, Fukuoka. Seorang produser dari stasiun televisi Fuji TV mendengar video klip demo lagu tersebut, dan bermaksud menjadikannya sebagai lagu tema serial drama di Fuji TV. Debut singel Yui, “Feel My Soul” yang dirilis 23 Februari 2006 dijadikan lagu tema serial drama Fukigen na Gene. Serial drama tersebut dihiasi lagu-lagu Yui, seperti “Feel My Soul” dan “It’s Happy Line”. Singel “Feel My Soul” laku di atas 100 ribu keping, namun 3 singel berikutnya, “Tomorrow’s Way”, “Life”, dan “Tokyo” ternyata tidak sesukses “Feel My Soul”. Setelah merilis 4 buah singel, album pertama Yui yang berjudul From Me To You dirilis bulan Februari 2006 dan laku di atas 200 ribu keping.

Sementara itu, Yui memulai karier akting dengan membintangi film berjudul Midnight Sun (Taiyou no Uta). Film tersebut diputar di Festival Film Cannes 2006 dan dirilis di Jepang pada 17 Juni 2006. Singel ke-5, “Good-bye Days” khusus ditulisnya untuk film Midnight Sun. Kepopuleran singel Yui yang sebelumnya kembali terangkat setelah singel ke-6, “I Remember You” diedarkan.

“Rolling Star” adalah singel ke-7 Yui yang dijadikan lagu pembuka seri ke-5 anime Bleach. Singel ke-3, “Life” juga dipakai sebagai lagu penutup seri ke-5 anime yang sama. Selain itu, iklan televisi ponsel KDDI layanan “au Listen Mobile Service” memakai singel ke-8 Yui, “CHE.R.RY” sebagai lagu tema.

Sementara itu, album kedua, Can’t Buy My Love menduduki puncak tangga album Oricon selama 2 minggu berturut-turut, dan laku lebih dari 500.000 keping.

Singel ke-9 berjudul “My Generation/Understand” dirilis 13 Juni 2007, sekaligus merupakan singel pertama Yui yang berbentuk double A-side (dua lagu unggulan di sisi A). My Generation menjadi lagu tema untuk serial drama Seito Shokun!, dan “Understand” menjadi lagu tema film Sidecar ni Inu.

Singel ke-10, “Love & Truth”, dirilis 26 September 2007, merupakan lagu tema dari film yang dibintangi oleh Erika Sawajiri, yang berjudul Closed Note.

Singel ke-11 YUI berjudul “Namidairo” bernada gelap dan sedih. Sementara single ke 12 nya “Summer Song” dirilis 2 Juli 2008 berhasil mencapai penjualan tertinggi di minggu pertama Oricon Chart.

Album kompilasi B-side pertamanya,My Short Stories dirilis akhir tahun dengan Hit Single berjudul “I’ll Be”. Lagu ini menjadi jingle iklan Sony Walkman di Jepang. Setelah peluncuran single ini,YUI memutuskan untuk istirahat beberapa bulan agar lebih fokus pada proyek tahun depan.

Pada 3 Juni 2009, Single terbaru YUI berjudul “again” diluncurkan. Lagu ini menjadi opening anime “Fullmetal Alchemist Brotherhood”. “Again” berhasil meraup penjualan sebanyak 110.000 copies di minggu pertama. Single ini akhirnya menjadi peringkat satu dalam penjualan minggu pertama paling tinggi pada 2009.

Single terbarunya, “GLORIA” dirilis awal tahun 2010 dengan nuansa musim dingin. Single ini kembali merajai Oricon Weekly Sales.Dengan ini, YUI berhasil memegang predikat empat single konsekutif (empat single terakhirnya menduduki puncak oricon berturut-turut).

Diskografi

Single indie

  • It’s happy line/I know (24 september 2004, peredaran terbatas di Kyushu)

Single

  • “Feel My Soul” (23 Februari 2005)
  • “Tomorrow’s Way” (22 Juni 2005)
  • “LIFE” (9 November 2005)
  • “TOKYO” (18 Januari 2006)
  • “Good-bye Days” (14 Juni 2006)
  • “I Remember You” (20 September 2006)
  • “Rolling Star” (17 Januari 2007)
  • “CHE.R.RY” (7 Maret 2007)
  • “My Generation/Understand” (13 Juni 2007)
  • “LOVE & TRUTH” (29 September 2007)
  • “Namidairo” (27 Februari 2008)
  • “Summer Song” (2 Juli 2008)
  • “Again” (3 Juni 2009)
  • “It’s All Too Much/Never Say Die” (7 Oktober 2009)
  • “Gloria” (20 Januari 2010)
  • “To Mother” (2 Juni 2010)


Album

  • From Me To You (22 Februari 2006)
  • Can’t Buy My Love (4 April 2007)
  • I Loved Yesterday (9 April 2008)
  • My Short Stories (12 November 2008)
  • Holidays In The Sun (14 Juli 2010)

Pranala luar

Topik:
Walaupun sekarang ini sudah jarang sekali drama-drama Asia menghiasi layar kaca televisi kita, namun para penggemarnya masih tetap setia. Tentunya langsung terbayang dibenak kita mengenai drama-drama Asia yang dahulu begitu booming yang menghiasi layar kaca kita, seperti Meteor Garden, Full House, Dae Jang Geum, dan One Littre of Tears.

Pikiran kita langsung membayangkan bagaimana tegarnya San Chai menghadapi kelakuan Dao Ming Shi beserta geng F4nya, juga langsung cengar cengir jika kita juga mengingat kisah cinta pada drama Full House yang bercerita mengenai kisah cinta Lee Young Jae dan Han Ji Eun. Dan menjadi lebih semangat saat mengingat kisah  Dae Jang Geum ( Jewel In The Palace).  Kita juga akan menangis sedih ketika mengingat drama yang berasal dari kisah nyata, mengenai perjuangan Aya seorang gadis berusia 15 tahun, berusaha dengan kerasnya melawan penyakit spinocerebellar degeneration, yang dideritanya dalam drama yang bertajuk One Litre of Tears.

Drama-drama Asia yang disuguhkan memang sangat mengena dihati, dan begitu mengharu biru, plus uniknya drama-drama tersebut mampu membuat para pemirsa makin tergila-gila dengan segala hal yang berbau Asia. Tak ketinggalan pula para bintangnya mendadak dikenal, otomatis euforia dari para penggemar drama Asia di Indonesia mendorong untuk ingin lebih jauh lagi mengetahui berita mengenai para bintang Asia tersebut. Maka menjamurlah majalah dan tabloid yang memuat semua berita para bintang tersebut. Sampai-sampai mendatangkan para bintang pujaan mereka kesini.

Drama-drama Asia tersebut juga selalu membawa budaya mereka, tentunya lebih dekat dengan budaya Indonesia dan lebih mudah diterima oleh kita, jika dibandingkan dengan budaya dunia Barat.   Seperti yang dikatakan oleh Rob Wilson dalam bukunya “Korean Cinema On The Road to Globalization: tracking global/local dynamics, or why I’m Kwon-Taek is not Ang Lee” pada tahun 2001. Bahwa Asia adalah juga pengirim pesan kebudayaan (a sending culture) yang dalam kasus ini lebih diperhatikan daripada Amerika Serikat atau negara barat lain.

Salah satu drama yang mengangkat tema budaya tradisional adalah Jewel in The Palace yang bersetting  zaman dinasti Joseon (Chosun) sekitar abad ke-16. Selain mengisahkan kisah cinta Jang Geum juga bercerita mengenai perjuangannya dari menjadi koki istana sampai menjadi seorang tabib yang pertama ada di dinasti kerajaan Joseon. Drama Hwang Ji Ni yang mengisahkan kehidupan para Geisha Korea (Gisaeng) atau wanita penghibur (pemusik, penyair atau pekerja seni menyanyi dan menari),  diselingi kisah cinta yang tidak boleh dijalani oleh para Gisaeng. Sampai kisah tradisional modern yang berkisah mengenai keluarga kerajaan Korea di jaman sekarang seperti dalam drama Princess Hour, yang dikemas begitu apiknya.

Dengan jalan cerita yang begitu kuat serta angle-angle yang bagus  membuat banyak orang makin jatuh cinta, masing-masing drama dari setiap negara-negara tersebut memiliki ciri khas yang kuat.  Film Jepang yang rata-rata mengusung cerita mengenai suatu profesi, yaitu bagaimana para tokohnya begitu memperjuangkan dan begitu loyal terhadap profesinya, seperti dalam drama serial seperti Anchor Woman, Beatiful Life, Great Teacher Onizuka dll. Drama Korea dengan kisah cintanya yang begitu mengharu biru seperti Endless Love, Stairway to Heaven, Memories in Bali.  Serta drama-drama Mandarin yang selalu mengusung cerita yang ceria, unik yang disertai humor-humor segar seperti Putri Huan Zhu, Romantic Princess, Magician Love, Frog Prince.

Seperti dalam lirik lagu David Tao yang berjudul Gong Bao Ji Ding ( Kung Pao Chicken)  dalam salah satu syairnya terdapat kata- kata  Ai Jiu Xiang Shi Gong Bao Ji Ding, ( cinta itu bagaikan Kung Pao Chicken).  Kung Pao Chicken, merupakan  nama masakan tradisonal China yang rasanya campur aduk ada pedas, asem, manis dan asin. Benar-benar pas kalau drama Asia diibaratkan seperti Kung Pao Chicken.
Walaupun sekarang memang sudah jarang tayang di stasiun-stasiun TV kita, namun para penggemarnya masih tetap bisa menikmati drama dan film-film Asia dengan cara membeli DVD yang bisa didapatkan salah satunya disebuah toko yang bernama My Idol Shop Gajah Mada Plaza  yang terletak di lantai satu. Pokoknya dijamin lengkap dan yang pasti bukan bajakan.
Tetapi ternyata salah satu stasiun TV kita juga sekarang sedang mengulang film yang sangat booming yaitu Meteor Garden, bahkan dalam waktu dekat ini juga akan hadir serial Mandarin yang dilakoni bintang berbakat dan juga penyanyi terkenal Rainie Yang, Mike He, King One.

Nah, berikut beberapa referensi drama-drama baru dan juga drama yang patut ditonton yang bisa menjadi rekomendasi bagi yang penasaran dengan drama Asia. Dari Mandarin ada Romantic Princess, Hanakimi, Hot Shot yang diperankan 3 bintang tenar asal Taiwan (Jerry Yan, Alan Luo dan Wu Chun).  Sedangkan dari Korea ada Boys Before Flower versi koreanya Meteor Garden atau Hana Yori Dango,Cinderella Man drama, Good Job, dan Queen of Housewives, Cofee Prince. Dan  dari Jepang ada Nodame Cantabile, Arifureta Kiseki, Death Note dan masih banyak lagi deh. Selamat menonton.

Siapa sih yang gak kenal dengan kota Malang?…Sebagai kota yang terletak didataran tinggi dan dikelilingi dengan pegunungan membuat Malang menjadi sejuk. Walaupun dengan adanya kondisi cuaca yang tidak menentu dengan adanya pemanasan Global, kota Malang tetap dapat memberikan kesejukan.

Kalian pernah nggak merasa nama-nama di Final Fantasy terasa tidak asing? Sebenarnya nama-nama di Final Fantasy itu banyak terinspirasi oleh nama-nama yang ada di dunia nyata loh… so, kali ini saya akan sedikit membongkarnya.

Kita mulai dari namanya dulu, Final Fantasy. Final Fantasy adalah sebuah game RPG yang awalnya dibuat oleh Hironobu Sakaguchi dan dikembangkan serta dilisensi oleh Square Enix (yang dulunya bernama Squaresoft). Pertama kali dirilis di Jepang pada tahun 1987.

Hironobu Sakaguchi

Lalu kenapa diberi nama atau judul sebagai Final Fantasy ?karena game ini dulunya diniatkan sebagai game terakhir yang akan dirilis oleh Square, yang pada saat itu sedang berada di ambang kebangkrutan, OH NO!!!!. Ternyata game tersebut malah sukses dan diterima oleh publik game Jepang sebagai sebuah RPG yang bagus!!!!.

Lalu darimana Square Enix mendapatkan nama-nama untuk semua versi Final Fantasy? Nampaknya mereka mempunyai ide sedalam Palung Mariana, bukan? Bayangin saja, ada berapa seri Final Fantasy.Tapi sebenarnya mereka melakukan riset yang mendalam terlebih dahulu berdasar karakterisasi yang cocok . Dan inilah asal-usul nama-nama di Final Fantasy yangmerupakan hasil jerih payah dan tentu saja keringat Square Enix… he he he.

Mitos & Legenda

Penasaran nggak dari mana mereka bisa mendapatkan nama Cid, Gilgamesh, atau Shin-Ra? Ternyata tiga nama tersebut berkaitan dengan mitos dan legenda. Nama Cid berasal dari seorang karakter dalam legenda Spanyol bernama El Cid. Sementara Gilgamesh, ditambah Pazuzu (yang berarti Demon) berasal dari mitos bangsa Mesopotamia.

Lalu Shin-Ra dalam mitos Mesir bermakna Dark God, yang konon berwujud mirip seperti vampir. Btw, jika terkait dengan mitos, Yunani termasuk jawaranya. Nama-nama seperti Four Fiends, Zemus (yang ternyata plesetan dari Zeus), Ultros (yang diambil dari Orthros, nama seekor monster dengan wujud anjing berkepala dua, yang juga pernah dihadapi Hercules sebagai lawannya), dan Promathia (Promethius, nama salah satu Titan) berasal dari mitos Yunani.

El Cid

Oh, ya. Masih berkaitan dengan Yunani. Tidak hanya mitos, tapi Garland yang merupakan salah satu legenda dari bangsa tersebut juga menjadi salah satu asal usul bagi nama di Final Fantasy. Legenda Norse juga tak luput dari riset mendalam Square Enix. Nama-nama seperti Kraken, Bikke, dan Siegfried berasal dari sana. Jin yang awalnya kami pikir berasal dari bahasa Jepang, ternyata malah datang dari legenda bangsa Arab

Fujin.

Dari mitos Yunani nama-nama seperti Celes juga di ambil. Lalu dari Jepang, ada mitos Kappa juga Fujin dan Raijin yang merupakan dewa guntur dan dewa angin. Terus ada Mael Duin, yang bisa jadi adalah plesetan dari Maduin di mitos Irlandia. Dan akhirnya, ada Ramuh yang bisa jadi dimaksudkan sebagai Ra-Mu dari legenda Atlantis.

Bahasa Kuno & Bahasa Asing

Bagaimana dengan nama-nama seperti Cloud Strife, Squall, atau Tidus? tiga nama tadi diambil dari bahasa kuno atau asing. Cloud Strife berasal dari bahasa kuno Inggris, atau tepatnya Anglo Saxon, berupa perpaduan dari kata Cloud yang bermakna misterius, serta Strife yang bermakna agresif.

Lalu Squall yang masih berasal dari rumpun bahasa yang sama, ternyata bermakna angin yang keras. And Tidus? Tidus diserap dari bahasa Jepang kuno, yaitu Tii-da yang bermakna matahari. Romantisnya, Tidus dipasangkan dengan Yuna, yang dalam bahasa Jepang kuno bermakna malam, atau bisa juga berarti bulan.

Selain itu masih ada bahasa Spanyol. Buktinya, ada Rosa yang berarti mawar, Lenna yang berarti ratu, juga Chupon yang berarti orang yang mudah kena tipu. Nama Cefca Pallazo sendiri didasarkan pada Pallazo yang berarti badut, sementara Azul the Cerulean berupa perpaduan dari kata Azul yang berarti biru dan Cerulean yang berarti kebiruan.

Selanjutnya giliran bahasa Latin. Ada Stella yang berarti bintang, juga Aeris yang bermakna udara. Sementara Vincent mengambil kata dasar Vincere yang berarti menundukkan. Rufus yang berarti sesuatu yang berwarna merah, lalu sobatnya Reno yang ternyata berarti mucikari. Argento yang bermakna perak.

Kitab Suci & Agama

Tak jarang, orang-orang di Square Enix juga tertarik dengan penamaan yang berasal dari kitab-kitab suci. Pernah tahu kira-kira nama Sephiroth, Tifa, atau Kuja diambil dari mana? Hmmm saya mengendus Teologi dari ketiganya…sifff…sniffff

Ternyata nama Sephiroth diambil dari agama Yahudi, yang merupakan 10 alur penting dalam Kabbalah, atau lebih dikenal sebagai Tree of Life, bermula dari Tuhan (direferensikan sebagai Ein Sof – Yang Tak Terbatas) mengungkap keberadaaan-Nya dan berlanjut menciptakan alam fana serta rantai kehidupan hingga kembali ke alam baka.

Sephiroth atau Tree of Life

Kemudian Tifa berasal dari Tiffa atau Tiferet juga dari agama Yahudi, yang merupakan pusat dari Tree of Life dan merupakan perlambang dari kecantikan, keseimbangan, serta cinta. Sementara untuk Kuja dikutip dari agama Hindu yang pengertiannya merupakan Putera Bumi, atau beberapa orang mengaitkannya dengan planet Mars. Benar-benar berbau agama!!!

Selain Sephiroth & Tifa, Hashmal juga diambil dari agama Yahudi, yang merupakan salah satu dari tujuh malaikat terdepan yang membela Tuhan. Menemani Kuja, dari agama Hindu, Square Enix memplesetkan nama dua dewa berpengaruh dalam agama tersebut, yaitu Kali & Brahma menjadi Kary & Brahne.

Lokasi Nyata

Lalu bagaimana dengan Rydia, Wutai, dan Canaan? ketiga nama tersebut berasal dari nama negara atau lokasi sungguhan yang nyata-nyata ada di dunia kita ini.

Rydia berasal dari penyebutan oleh orang Jepang terhadap Lydia, yang merupakan salah lokasi di pesisir barat dari Anatolia. Wutai sendiri merupakan nama pegunungan yang sungguh-sungguh ada di Propinsi Shanxi, China. Sementara Canaan merupakan sebutan lama bagi negara Israel.

Wutai

Ada lagi kalau kamu masih ingin tahu. Kilika berasal dari plesetan penyebutan Sisilia. Sementara Sanubia Desert ternyata diilhami dari Padang Pasir Nubia yang terletak antara sungai Nil dan Laut Merah di Mesir.

Burmecia dan Cleyra diilhami dari nama dua buah kota yang berdiri pada abad ke-6 di bagian utara Inggris, yaitu Burnicia dan Deira. Madain Sari berasal dari salah satu lokasi di Arab yang bernama Madai Salih. Golgorand diplesetkan dari Golgotha, yang merupakan tempat di mana Yesus disalib. Lalu Araguay Woods kemungkinan merupakan perpaduan dari Uruguay dan Paraguay. Selain itu ada juga Zanarkand yang berasal dari kota kuno Samarkand yang kini di kenal sebagai Uzbekistan

Tokoh Sungguhan

Beberapa nama tokoh sungguhan juga mengilhami orang-orang Square Enix untuk memberikan nama dalam serial Final Fantasy. Seperti Billy yang jelas-jelas mengambil ilham dari nama Billy the Kid, salah seorang buronan terpopuler di Amerika. Lalu ada Namingway yang kemungkinan mendapat inspirasi dari nama Ernest Hemingway, salah seorang pujangga Amerika.

Locke Kole diambil dari nama belakang John Locke, yang merupakan filsuf Inggris yang mencetuskan pemikiran Liberalisme. Sementara Don Corneo, seperti yang kamu tahu berasal dari pemlesetan nama Don Corleone. Daguerreo diilhami dari nama Louis Daguerre, penemu dari kamera modern.

Ernest Hemingway

Cyril kemungkinan mengambil referensi dari St. Cyril; salah seorang suci yang mengenalkan Kristen Ortodoks Timur. Lalu ada Draclau, yang merupakan sedikit pemlesetan dari Dracula Tepes, nama yang terkenal di daratan Transylvania. Giott yang bisa jadi terinspirasi oleh Giotto di Bondone, seorang pelukis dan arsitek yang hidup sekitar abad ke-13 di Florence, Italia.

Kemudian ada Madonna, yang berasal dari, yah. Madonna. Heidegger yang tak pelak diambil dari nama Martin Heidegger, salah satu filsuf terkenal dari Jerman. Bugenhagen, tentunya mengambil dari nama belakang Johannes Bugenhagen, yang merumuskan Reformasi Protestan. Terakhir yang saya dapat adalah Hanzou, yang berasal dari Hatori Hanzou tentunya.

Karya Seni atau Film

Bagian yang satu ini yang paling jelas darimana asalnya, terutama bagi pecinta film dan seni yang tiap hari nngkrong di bioskop, ^_^, Square Enix kadang melakukan homage terhadap dua hasil karya kontemporer anak manusia ini. Misalnya dari buku Dante’s Inferno, mereka mengambil ide dari nama-nama seperti Guido dan Beatrice (yang sedikit diplesetkan menjadi Beatrix).

Pernah menonton Star Wars: A New Hope? Ada dua karakter bernama Vicks dan Wedge yang membantu Luke Skywalker meledakkan Death Star menjelang akhir film. Kedua karakter tersebut mengilhami penamaan karakter Biggs dan Wedge. Sementara dari Star Wars: The Empire Strikes Back, ada nama Piet yang mengilhami orang-orang di Square Enix.

Salah satu puisi terkenal dari sang pujangga Inggris, William Shakespeare, berjudul The Rape of Lucrece, mengilhami penamaan Lucrecia yang kita kenal pemunculannya di Final Fantasy VII. Dari sebuah kisah epik yang merupakan perpaduan budaya Italia dan Romawi, terdapat nama Orlandeau yang mengilhami nama Orlando, sang Paladin dari Charlemagne.

Terakhir, ada sebuah lukisan berjudul Guernica karya seniman terkenal asal Spanyol yang terkenal dalam aliran kubisme & termasuk salah seorang pelukis revolusioner pada abad ke-20 karena saking eksentriknya, Pablo Picasso. Judul lukisan tersebut mengilhami salah satu penamaan di dunia Final Fantasy.

Anagram

Sentuhan terakhir Square Enix untuk pemberian nama-nama di serial Final Fantasy adalah anagram. Anagram merupakan salah satu jenis permainan kata, di mana huruf-huruf yang membentuk sebuah kata biasanya diacak untuk membentuk kata lainnya lagi. Contohnya nama Gerad dari Final Fantasy VI yang merupakan hasil acak dari Edgar.

Lalu Zalera atau Zarela yang merupakan anagram dari Azrael. Oscar yang akan dieja oleh orang Jepang menjadi O Su Ka, sepertinya merupakan anagram dari Ka O Su yang merupakan cara orang Jepang untuk mengeja Chaos. Mio dan Raem yang merupakan anagram sekaligus pemecahan dari satu kata, yaitu Memoria.

Lainnya

Kemudian ada asal-usul beberapa nama di serial Final Fantasy yang berangkat dari bermacam ide lainnya.

Contohnya Yura yang berasal dari Yuri, merupakan nama yang populer dipergunakan di Rusia. Terus ada Garnet, asalnya dari nama salah satu batu mulia yang biasanya dijadikan perhiasan. Knave berasal dari sebutan lain untuk kartu Jack pada permainan kartu remi. Baron berasal dari status kebangsawanan bagi seorang pria berkelas pada zaman Dark Age.

Nama-Nama Unik

Oke dan ini yang terakhir. Moga Anda tidak capek mebacanya, coz udah panjang banget postingan kali ini!!!!!! Udah Hampir 20 halaman!!!! Oke tanpa basa-basi lagi ini dia Th End.

Pertama Bahamut, seharusnya adalah seekor naga raksasa, mungkin rajanya para naga. Namun ada sebuah cerita lain yang mengisahkan sebuah dunia yang direngkuh oleh seorang malaikat yang berdiri di atas pegunungan yang terbuat dari batu ruby. Pegunungan tersebut berdiam di atas seekor banteng yang memiliki empat ribu bagian tubuh.

Bahamut

Beberapa menyebut banteng tersebut sebagai Kujata, yang dipergunakan di Final Fantasy VII dengan nama Kjata. Banteng tersebut berdiri lagi di atas seekor ikan yang sedang berenang-renang di tengah kegelapan. Nah, ikan tersebutlah yang bernama Bahamut. Lumayan panjang ceritanya, ya? Hehe.

Sementara untuk Chocobo bisa jadi mendapatkan namanya dari sebuah permen cokelat yang telah dijual di Jepang sejak lama dan masih populer hingga sekarang. Namanya “Chocoballs” dan memiliki gambar seekor burung di bagian depannya. Namun sayangnya burung tersebut sama sekali tidak mirip dengan Chocobo yang kita tahu dan sayangi tersebut. ^_^

Chocobo

Golem diangkat berdasar mitos Yahudi yang merupakan sesosok makhluk yang terbuat dari lumpur dan dapat dihidupkan saat seorang suci menuliskan kata “emet” (kenyataan) pada sosok tersebut. Golem dapat dihancurkan setelah menghilangkan salah satu kata tersebut, sehingga membentuk kata “met” (kematian) yang akan mengeringkan & merontokkan tubuh lumpurnya.

Ifrit aslinya dieja sebagai “Efreet”. Efreeti adalah jin yang memiliki elemen api dan hidup di City of Brass. Makanya Ifrit memiliki perwujudan bak api. Sementara Leviathan adalah sosok monster laut legendaris yang berukuran raksasa dan dikisahkan sering menenggelamkan kapal-kapal di kedalaman laut.

Odin

Kemudian ada Odin, yang merupakan dewa nomer satu dari mitos Norse. Dewa atas petir, perang, kebijakan, sekaligus kehormatan. Salah seorang dari 3 putera Borr, dia merupakan putera yang paling terhormat dan ayah dari beberapa dewa dalam mitos Norse. Dia dengan mudah mampu membelah siapa pun berkat kekuatan Esper-nya. Terkenal hanya memiliki satu mata.

Quetzalcoatl , diketahui berbentuk ular yang berbulu, adalah salah satu dewa dari budaya Aztec kuno atas angin, pengetahuan, dan keimaman. Namanya dieja sebagai Ket-Sal-Ko-Atl. Diramalkan bahwa dia akan bangkit kembali untuk membalaskan dendamnya karena telah diusir suatu di masa silam.

Aeon yang kita temui dalam Final Fantasy X, diambil dari “aeon” atau “eon” yang merupakan hitungan untuk periode waktu yang sangat lama. Esper adalah kata baku baru yang dipergunakan untuk mencirikan seseorang yang memiliki kemampuan extra-sensory perception. Square Enix mengakui nama tersebut diilhami oleh kisah “The Demolished Man”, oleh Alfred Bester.

Renzokuken yang merupakan Limit Break dari Squall dalam Final Fantasy VIII, mengambil ilham dari istilah dalam bahasa Jepang yang berarti ‘tebasan tanpa henti’ atau ‘tusukan pedang yang berulang-ulang’.

Itu dia semua nama-nama yang dalam Final Fantasy yang seperti saya bilang merupakan hasil jerih payah dan keringat, seperti usaha Anda untuk membaca artikel ini ^_^. Tapi mungkin nggak lah ya… soalnya kan pake AC ga seperti saya di sini, udah Ngos-ngoshan ngeditnya. Oke baiklah sampai di sini saja, Keep Reading My Post, Okay?

(sumber: www.kotakgame.com)

Ini adalah artikel tentang seri permainan Final Fantasy. Untuk judul pertama seri ini.

Final Fantasy
Genre Permainan peran konsol
Pengembang Square Enix (sebelumnya Square)
Penerbit Square Enix (sebelumnya Square) Penulis Hironobu Sakaguchi
Platform Telepon genggam, Game Boy Advance, MSX, Nintendo DS, Nintendo Entertainment System, Nintendo GameCube, Windows, PlayStation, PlayStation 2, PlayStation 3, PlayStation Portable, Super Nintendo Entertainment System, Wii, Wonderswan Color, Xbox 360
‘Platform asal Nintendo Entertainment System
Rilis pertama Final Fantasy
18 Desember 1987
Rilis terbaru Final Fantasy XIII
17 Desember 2009
Situs resmi www.square-enix.com


Final Fantasy (Bahasa Jepang: ??????????? Fainaru Fantajii) adalah seri permainan RPG konsol dan komputer yang diproduksi oleh Square Enix (sebelumnya bernama Square Co., Ltd.). Final Fantasy adalah seri permainan yang paling banyak didistribusikan sepanjang masa, termasuk permainan-permainan RPG standar untuk konsol, permainan portabel, MMORPG, permainan untuk telepon selular, tiga film produksianimasi dan dua film CGI berdurasi panjang.

Produk pertama seri ini diluncurkan di Jepang tanggal 18 Desember 1987 dan telah dikhusukan untuk pasar-pasar di Amerika Utara, Eropa dan Australia, pada banyak konsol permainan video, termasuk Nintendo Entertainment System, MSX 2, Super Nintendo Entertainment System, PlayStation, WonderSwan Color, PlayStation 2, Game Boy Advance, Nintendo GameCube juga komputer-komputer kompatibel PC IBM dan beberapa jenis telepon selular. Keluaran berikutnya telah diberitakan akan hadir untuk sistem permainan Nintendo DS, Nintendo Wii, PlayStation Portable, PlayStation 3 dan Xbox 360. Final Fantasy adalah seri produk Squre Enix yang paling sukses dan seri produk ketiga terlaris sepanjang masa, dengan penjualan sampai saat ini telah melebihi 63 juta unit di seluruh dunia.

Terhitung Juni 2006, di Jepang telah dirilis dua belas permainan yang merupakan bagian dari seri utama (bernomor), beserta banyak judul pecahan (spinoff) dan judul terkait lainnya. Dua darinya, Final Fantasy III dan Final Fantasy XII, secara resmi belum dirilis di luar Jepang; walau demikian, keduanya dijadwalkan hadir di Amerika Utara (yang pertama untuk Nintendo DS dan yang terakhir untuk PlayStation 2) pada akhir tahun. (Nama Final Fantasy III digunakan untuk rilis pertama di Amerika Utara yang sebenarnya adalah Final Fantasy VI di Jepang.)

Ringkasan


Square Co., Ltd. pertama kali memasuki industri permainan video Jepang pada pertengahan 1980, dengan mengembangkan variasi-variasi RPG sederhana untuk Famicom Disk System (FDS) Nintendo, sebuah perangkat berbasis disk yang digunakan pada Family Computer (“Famicom”, yang secara internasional dikenal sebagai Nintendo Entertainment System). Pada tahun 1987, menurunnya minat terhadap FDS menempatkan Square di ambang kebangkrutan. Pada waktu yang hampir bersamaan, perancang Square, Hironobu Sakaguchi, mulai mengerjakan proyek ambisius baru, sebuah permainan RPG fantasi untuk Famicom yang berbasis cartridge, sebagian karena terinspirasi oleh permainan populer Dragon Quest milik Enix (dikenal oleh beberapa orang di Amerika Serikat sebagai Dragon Warrior). (Pada saat ini, Enix dan Square adalah perusahaan yang terpisah; keduanya tidak bergabung sampai 17 tahun setelahnya.) Sakaguchi merencanakan pensiun setelah menyelesaikan proyek ini sehingga ia menamainya Final Fantasy (diterjemahkan menjadi “Fantasi Terakhir”) karena akan menjadi permainannya yang terakhir dan juga permainan terakhir dari Square. Secara luas diyakini permainan ini dinamai untuk Square dan bukan Sakaguchi, walau Sakaguchi sendiri mengkonfirmasi bahwa nama ini diberikan karena rencananya untuk pensiun. Sebaliknya, kesuksesan Final Fantasy ternyata menjadikannya jauh dari permainan terakhir Square atau Sakaguchi. Final Fantasy membalik keberuntungan Square dan menjadi produk terdepannya.

Mengikuti kesuksesan permainan pertamanya, Square dengan cepat memulai cerita kelanjutannya. Berbeda dengan tipikal cerita kelanjutan sebuah permainan, Final Fantasy II menghadirkan karakter-karakter yang sama sekali berbeda, dengan setting dan cerita yang hanya memiliki sedikit persamaan tema dengan permainan pendahulunya. Pendekatan yang tidak lazim ini berlanjut sepanjang seri, di mana tiap permainan Final Fantasy memperkenalkan dunia yang baru dan sistem permainan yang baru. Banyak elemen dan tema yang ditemui kembali sepanjang seri tapi tidak pernah terdapat cerita kelanjutan langsung, sampai dirilisnya Final Fantasy X-2 pada tahun 2003. (Setelah bergabung dengan Enix, cerita kelanjutan-langsung tampak meningkat.) Pada satu sisi, seri Final Fantasy telah menjadi ajang pertunjukan kreatifitas pengembang-pengembang Square dan banyak elemen yang diperkenalkan dalam seri ini diadopsi ke judul-judul Square lainnya, di mana dua darinya yang paling dikenal yaitu, SaGa dan Seiken Densetsu.

Tema-tema umum


Walau cerita dalam tiap Final Fantasy berdiri sendiri, banyak tema dan elemen permainan yang diulang sepanjang seri. Beberapa judul pecahan menghadirkan karakter-karakter dari cerita lainnya namun dalam banyak kasus hanya namanya yang digunakan ulang sehingga tiap permainan tetap memiliki koleksi karakter yang unik. Pengaruh yang kuat dari sejarah, litaratur, sifat manusia, agama dan mitologi dalam cerita sampai seringnya dimunculkan kembali beberapa jenis tertentu dari monster, karakter dan barang; memberikan kerangka pemersatu untuk keseluruhan seri. Pengecualian untuk tren ini adalah Final Fantasy X-2 yang merupakan kelanjutan langsung dariFinal Fantasy X. Sebagai tambahan, di Jepang telah dirilis “Before Crisis“, “Crisis Core” dan “Dirge of Cerberus“, yang semuanya merupakan bagian dari Compilation of Final Fantasy VII, dibuat untuk mengembangkan dunia Final Fantasy VII. Di dalamnya juga terdapat film CG Final Fantasy VII: Advent Children. Trailer dari tiap permainan ini bisa dilihat dalam disk spesial (disk 2) versi Inggris Final Fantasy VII: Advent Children yang dirilis untuk DVD dan PSP di Amerika tanggal 25 April 2006. Final Fantasy XIII akan mengikuti pola ini dengan tiga permainan: Final Fantasy XIII, Final Fantasy Versus XIII dan Final Fantasy Agito XIII yang semuanya tergabung dalam Fabula Nova Crystallis: Final Fantasy XIII Collection. Permainan Final Fantasy XIII keempat kemungkinan sedang dalam pengembangan.


Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.


Beberapa konsep dan objek pokok yang muncul di lebih dari satu judul Final Fantasy meliputi:

  • Pesawat/kapal udara (airship) — Kendaraan udara besar yang biasanya menjadi alat transportasi utama untuk pemain, memungkinkan perjalanan yang cepat ke hampir seluruh bagian dunia tanpa risiko menghadapi pertarungan acak. Dalam banyak permainan, khususnya Final Fantasy IV dan Final Fantasy IX, kehadiran pesawat merupakan komponen kunci dalam ceritanya sendiri. Pada sebagian besar judul, pesawat memiliki bentuk seperti perahu layar yang melayang dengan beberapa set baling-baling, menggantikan layar yang umumnya terdapat pada kapal layar. Namun pada beberapa permainan yang lebih kini mereka tampak lebih canggih, terlihat seperti zeppelin atau bahkan pesawat luar angkasa dengan dekoratif yang tinggi. Saat pemain bisa mengendalikan pesawat dan terbang bebas, peta dunia dalam permainan akan melipat secara horizontal dan vertikal, mengindikasikan bentuk planet yang bundar, walaupun bentuk yang lebih tepat untuk peta di permainan ini adalah torus.
  • Kelas karakter dan sistem Peran — Kelas karakter yang dapat dimainkan meliputi Petarung; Penyihir Putih, Hitam, Merah dan Biru; Pendeta; dan Pencuri. Bahkan pada permainan di mana pemain tidak memiliki opsi untuk memilih kelas untuk karakternya, kelas tetap memiliki peran penting dalam latar belakang cerita. Selain itu, beberapa judul (Final Fantasy III, Final Fantasy V, Final Fantasy XI, Final Fantasy Tactics dan Final Fantasy Tactics Advance) menggunakan sebuah sistem “Peran” di mana pemain dapat mengubah kelas karakter antara tiap pertarungan. Dalam Final Fantasy X-2, sistem Dressphere bahkan memungkinkan penggantian peran karakter langsung di tengah pertarungan. Sebagai tambahan, beberapa sihir dan senjata legendaris dapat diberikan pada kelas tertentu, seperti pedang Masamune untuk kelas Ninja, atau sihir Ultima untuk Penyihir Hitam. Dalam Final Fantasy IX, tiap karakter mencerminkan peran dari judul-judul Final Fantasy sebelumnya, seperti Zidane Tribal yang bekerja sebagai pencuri dan Freya Crescent yang penampilannya mirip dengan Penyihir Merah sementara keahliannya jelas diturunkan dari kelas Dragoon.
  • Nama karakter — Seorang karakter bernama “Cid” selalu hadir dalam tiap permainan Final Fantasy sejak Final Fantasy II (dan disinggung secara singkat di Final Fantasy Origins dan Final Fantasy I & II: Dawn of Souls). Walau ia tidak pernah menjadi individu yang sama, ia biasanya dihadirkan sebagai pemilik, pembuat dan atau pilot untuk sebuah pesawat. Film Final Fantasy: The Spirits Within juga menampilkan seorang karakter bernama “Sid”, sebuah ejaan lain untuk nama “Cid” yang lebih umum. Dalam bentuk yang serupa, karakter-karakter bernama Biggs dan Wedge (penghormatan untuk karakter-karakter Star Wars Biggs Darklighter dan Wedge Antilles) muncul dalam Final Fantasy VI sampai Final Fantasy X-2. Nama-nama yang diulang di antaranya adalah Hilda (FFII, FFIX dan FFXI), Gogo (FFV dan FFVI), Gilgamesh (FFV, FFVIII, FFIX, FFXI dan FFXIII), Lonewolf dan Pickpocket (FFV dan FFVI) dan Sara (FF, FFIII, FFV dan FFIX). Nama Cecil (FFIV) juga diulang dalam petualangan GameCube, Final Fantasy Crystal Chronicles. Nama belakanag Highwind juga digunakan berulang kali oleh beberapa karakter dalam seri FF; Richard Highwind (FFII), Kain Highwind (FFIV), King Alexander Highwind Tycoon (FFV) dan Cid Highwind (FFVII). Nama Highwind sebenarnya merupakan nama belakang untuk setiap karakter berkelas Dragoon (petarung bertombak). Tergantung aksi pemain, Highwind juga dapat muncul sebagai nama Gummi Ship dalam permainan persilangan Final Fantasy-Disney Kingdom Hearts.
  • Cerita latar dan perkembangan karakter yang kompleks — Sepanjang cerita dalam banyak judul pada seri Final Fantasy, karakter-karakter utamanya akan tumbuh dan berkembang seiring permainan. Seringkali hubungan antar beberapa karakter juga berubah seiring waktu. Waktu yang cukup banyak juga sengaja dipakai untuk menjelaskan sejarah dan latar belakang banyak karakternya. Tiap karakter memiliki kepribadiannya masing-masing, daripada secara penuh dikendalikan oleh pemain. Hasilnya, banyak penggemar menjadi terikat pada karakter-karakter tertentu, merasa gembira saat semua berjalan baik dan merasa sedih saat kejadian buruk terjadi. Seringkali perkembangan dari karakter menjadi sumber beberapa humor dan drama yang ditanamkan ke dalam permainan.
  • Makhluk/monster — Makhluk-makhluk fiksi seperti Chocobo dan Moogle telah muncul pada banyak permainan dalam seri Final Fantasy. Monster-monster tertentu juga sering hadir, termasuk Goblin, Tonberry dan Cactuar. Terakhir, monster-monster yang dipanggil (juga dikenal dengan Esper, Guardian Force, Eidolon, Avatar atau Aeon) seperti Bahamut, Shiva, Ifrit dan Leviathan telah muncul dalam hampir setiap judul dalam seri walau Leviathan pernah digantikan oleh paus raksasa bernama Bismarck. Ramuh adalah makhluk panggilan Petir/Kilat yang hampir selalu ada walau dalam serial Final Fantasy selanjutnya ia sering digantikan oleh makhluk lainnya (dalam FFVIII ia digantikan oleh makhluk panggilan jenis burung bernama Quezacotl. Dalam FFX ia juga digantikan oleh makhluk sejenis unicorn bernama Ixion).
  • Jenis sihir — Sihir dalam seri Final Fantasy umumnya dibagi menjadi beberapa kelas yang dinamai dengan warna-warna tertentu. Sihir Putih dan sihir Hitam masing-masing mewakili penyembuhan/pendukung dan sihir menyerang, sementara sihir Merah mengandung baik elemen penyembuh dan juga menyerang, dengan keefektifan yang lebih kecil. Tambahan lainnya terdiri dari sihir Biru (kadang disebut dengan Lore atau kemampuan Musuh), yang mengandung serangan khusus yang dipelajari dari musuh, dan sihir Ruang/Waktu, yang mengandung kemampuan mengubah status seperti Haste, serta sihir gravitasi seperti Demi. Sihir yang berfungsi untuk membantu atau memberi penyakit pada musuh kini dinamakan Sihir Hijau, yang pertama kali ditampilkan pada kelas Oracle dalam Final Fantasy Tactics dan pada Arcana dalam Final Fantasy X-2, kemudian sebagai jenis sihir yang benar-benar terpisah dalam demo Final Fantasy XII. Sihir Hijau memperkenalkan kemampuan yang dulunya diklasifikasikan sebagai sihir Hitam atau Putih, seperti Darkness dan Petrification.
  • Elemen-elemen alur cerita — Cerita dalam Final Fantasy banyak berkisar seputar alur cerita yang mirip, seperti pemberontakan terhadap penguasa ekonomi, politik atau agama, perseteruan melawan kejatahan yang mengancam untuk mengambil alih atau menghancurkan dunia, atau alam melawan teknologi. Hubungan cinta antar karakter, mulai dari Cecil Harvey dan Rosa Farrell di Final Fantasy IV sampai Tidus dan Yuna di Final Fantasy X, serta kematian dari karakter-karakter utama (yang kadang juga dapat dimainkan), juga menyusun alur cerita. Salah satu hal paling populer yang sering diulang adalah tema mengenai kristal-kristal elemen, yang muncul di lebih dari separuh judul dalam seri Final Fantasy (FF, FFII, FFIII, FFIV, FFV, FFVII, FFIX, FFXI dan FFXIII), juga dalam beberapa judul pecahan (FF Mystic Quest, FF Tactics Advance dan FF: Crystal Chronicles).
  • Penawar dan luka status — Karakter-karakter dalam permainan Final Fantasy biasanya rentan terhadap sejumlah “luka status” yang menyebabkan efek-efek berbahaya, termasuk di antaranya bisu, racun, kekakuan dan kebingungan. Walau hal ini juga terdapat pada banyak RPG konsol lainnya, Final Fantasy memiliki daftar barang standar yang dapat digunakan sebagai penawar luka-luka tertentu, seperti “Layar Gema” untuk menyembuhkan bisu dan “Pelembut” (kadang dinamai “Jarum Emas”–benda “Pelembut” sendiri memiliki animasi berupa jarum emas) untuk menyembuhkan kekakuan, juga ilmu-ilmu sihir seperti Esuna atau Panacea.

Desain


Desain artistik, meliputi desain monster dan karakter, ditangani oleh artis Jepang terkenal Yoshitaka Amano sejak Final Fantasy sampai Final Fantasy VI. Selepas kepergian Amano, Tetsuya Nomura menggantikan pekerjaannya sampai Final Fantasy X, dengan pengecualian Final Fantasy IX, di mana desain karakter ditangani oleh Shukou Murase, Toshiyuki Itahana dan Shin Nagasawa.

Akihiko Yoshida, yang bekerja sebagai desainer karakter untuk Final Fantasy Tactics dan juga Vagrant Story (permainan lain yang diproduksi Square), saat ini menjadi lebih terlibat dalam seri FF sebagai desainer karakter Final Fantasy XII dan pembuatan ulang Final Fantasy III.

Pada bulan Oktober 2003, Kazushige Nojima, penulis utama skenario seri FF, mengundurkan diri dari Square Enix untuk membentuk perusahaannya sendiri, Stellavista. Ia menulis secara sebagian atau keseluruhan cerita untuk Final Fantasy VII, Final Fantasy VIII, Final Fantasy IX, Final Fantasy X dan Final Fantasy X-2. Square Enix tetap meneruskan pekerjaan pembuatan cerita dan skenario kepada Nojima dan Stellavista.

Musik


Nobuo Uematsu (tengah) dan The Black Mages, sebuah band hard rock yang merilis dua album musik aransemen Final Fantasy.Nobuo Uematsu adalah komposer musik utama seri Final Fantasy sampai ia mengundurkan diri dari Square Enix di bulan November 2004. Karya musiknya telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi popularitas Final Fantasy. Dalam Olympiade Musim Panas 2004, tim perenang indah Amerika yang terdiri dari Alison Bartosik dan Anna Kozlova dianugerahi medali perunggu untuk penampilannya dengan musik dari Final Fantasy VIII. Uematsu juga terlibat dengan grup rock The Black Mages yang telah merilis dua album aransemen Final Fantasy. Komposer lain yang juga memberikan kontribusi kepada seri Final Fantasy adalah Masashi Hamazu, Junya Nakano dan Hitoshi Sakimoto. Walau Sakimoto telah menggantikan Uematsu sebagai komposer untuk soundtrack Final Fantasy XII, Uematsu tetap memberikan kontribusi untuk musik vokalnya, “Kiss Me Goodbye”.

Terhitung tahun 2004, telah diadakan dua konser Final Fantasy yang sukses. Musik tema Final Fantasy dan lembar musiknya juga semakin terkenal di kalangan penggemar di luar Jepang dan bahkan pernah dibawakan oleh London Symphony Ochestra. Pada 17 November 2003, Square Enix Amerika meluncurkan sebuah stasiun radio America Online yang didedikasikan untuk musik dalam seri Final Fantasy, diawali dengan membawakan seluruh lagu dari Final Fantasy XI di samping musik dari Final Fantasy VII sampai Final Fantasy X. Banyak situs-situs permainan video dan MIDI di internet menawarkan berbagai bentuk dari musik Final Fantasy dan banyak remix bisa ditemukan.

Karena banyaknya permintaan dan besarnya sukses dari konser pertama Final Fantasy yang dibawakan oleh Los Angeles Philharmonic Orchestra di Walt Disney Concert Hall pada 10 Mei 2004, dibuatlah tur konser Dear Friends: Music From Final Fantasy yang dimulai bulan Februari 2005. Musik dari Final Fantasy pertama kali dibawakan di luar Jepang sebagai bagian dari seri konser Symphonic Game Music Concert di Jerman. Konser Final Fantasy yang diberi judul Beginning of Fantasy juga pernah diselenggarakan di Indonesia oleh Twilite Orchestra dengan Addie MS sebagai konduktor pada tanggal 28 Juli 2006 di Jakarta. Lagu tema Final Fantasy juga telah masuk dalam daftar iTunes Music Store.

Walau musik di dalam permainan memberikan banyak variasi, ada beberapa lagu tema yang sering digunakan ulang. Permainan seringkali dibuka dengan sebuah irama bernama “Prelude”, yang sebenarnya didasarkan dari salah satu prelude milik Bach. Dalam sepuluh judul pertama, pertarungan yang berakhir dengan kemenangan untuk pemain akan diiringi musik kemenangan yang menggunakan sembilan nada yang sama untuk mengawali musik tersebut dan telah menjadi salah satu musik dalam seri Final Fantasy yang paling dikenal. Nada-nada lainnya yang dikenal adalah tema Chocobo, tema Moogle serta sebuah bagian yang awalnya digunakan untuk irama pembuka dalam Final Fanatasy bernama “Ahead On Our Way” dan sekarang sering dimainkan saat permainan berakhir dan dinamakan “Prologue”.

Telah dikenal bahwa pada bagian-bagian Final Fantasy yang berporos pada karakter, terdapat sebuah elemen signifikan yang digunakan dalam musik pada tiap permainan, yaitu penggunaan leitmotif. Leitmotif dipopulerkan oleh komposer Romantic Era Richard Wagner yang dideskripsikan sebagai “lagu tema” untuk karakter, situasi atau keberadaan tertentu. Dalam hampir seluruh permainan Final Fantasy, semua karakter dan elemen plot utama memiliki musiknya masing-masing. Sebagai contoh, dalam Final Fantasy VII, lagu “Anxious Heart” biasanya dimainkan saat masa lalu karakter yang suram diangkat dalam cerita.

Grafik dan teknologi


Generasi 8-bit dan 16-bit

Tangkapan layar Final Fantasy (game pertama) pada suatu pertempuran di awal permainan.Seri FF dimulai dengan Final Fantasy yang dirilis tahun 1987 pada Nintendo Family Computer (juga dikenal sebagai “Famicom” dan secara internasional sebagai Nintendo Entertainment System) dan diikuti oleh dua judul kelanjutannya, Final Fantasy II (yang lalu akhirnya dirilis ulang untuk PlayStation dan Game Boy Advance) dan Final Fantasy III (yang lalu dibuat ulang untuk Nintendo DS). Karena keterbatasan grafik, pada layar utama dunia, hanya pemimpin kelompok yang ditampilkan dalam bentuk sprite kecil. Sementara pada layar pertarungan, ditampilkan semua karakter dalam versi yang lebih detil dengan sudut pandang dari samping.

Sistem dasar yang sama digunakan pada tiga permainan berikutnya, Final Fantasy IV, Final Fantasy V dan Final Fantasy VI, untuk Super Famicom (dikenal secara internasional sebagai Super Nintendo Entertainment System). Permainan ini menggunakan grafik dan efek yang telah disempurnakan, berikut suara dan musik dengan kualitas yang lebih tinggi dibanding permainan sebelumnya, namun desain dasarnya tetap memiliki kesamaan dengan para pendahulunya.

Teks untuk versi Jepang pada permainan-permainan awal Final Fantasy dituliskan murni dalam huruf kana. Banyak dari dialognya menjadi seperti tumpukan teks, membuatnya sulit terutama bagi pemain yang lebih tua dan pemain asing yang mempelajari bahasa Jepang. Akhirnya, pada Final Fantasy V, permainan sudah mulai menggunakan kanji. Hal ini terus berkembang dalam Final Fantasy VI dan pola ini berlanjut membuat dialog dan permainan menjadi lebih berbobot dan informatif.

Generasi Berbasis-CD/DVD

Final Fantasy VII merupakan permainan pertama dalam seri Final Fantasy yang menggunakan full motion video.Pada akhir generasi 16-bit, Squaresoft mempertunjukkan pratayang Final Fantasy untuk generasi berikutnya. Pada tahun 1997 Final Fantasy VII dirilis untuk PlayStation dan bukan untuk Nintendo 64 seperti yang pada awalnya banyak diantisipasi. Ini disebabkan perselisihan dengan Nintendo karena Squaresoft memilih menggunakan media disc dibanding cartridge, di mana Nintendo 64 menggunakan cartridge yang dapat dimuat dengan cepat dibanding CD-ROM berkapasitas besar. Nintendo mengembangkan pembaca disc yang akan dapat digunakan sebagai pangkalan tambahan pada N64, yang pengembangannya kemudian dihentikan. Ini mengharuskan Square mencari konsol berbasis disc. FFVII akan memerlukan banyak cartridge sedangkan CD-ROM dapat menampung data yang jauh lebih banyak. Untuk Full Motion Video (FMV) yang juga ditampung, permainan ini akan membutuhkan biaya yang hampir mustahil dipasarkan dengan biaya yang sanggup dibeli. Akhirnya FFVII dibuat untuk konsol PlayStation di mana ia membutuhkan 3 CD-ROM. Karakter-karakter dan keseluruhan dunia dalam permainan kini hadir dalam 3 dimensi, dengan latar belakang yang telah dirender. Final Fantasy VII juga merupakan permainan Final Fantasy pertama yang menggunakan adegan full motion video, yang merupakan sebagian alasan mengapa permainan ini memerlukan sampai tiga CD-ROM. Walau demikian, FMV dalam Final Fantasy VII tampak kurang konsisten, di mana model karakter tampil dengan penampilan biasa dalam satu adegan lalu sangat detil dalam adegan lainnya.

Tidak jauh setelah dirilisnya Final Fantasy VII, judul pecahan Final Fantasy Tactics kembali menggunakan sprite untuk karakternya. Karena interaksi-pengguna yang nyata di luar pertarungan hanyalah berbasis menu, pengembang tidak melihat kebutuhan untuk merender grafik utama secara 3D, walau area pertarungan tampil dalam 3D. Judul ini juga adalah RPG berbasis taktik pertama dalam seri Final Fantasy. Ia memiliki judul-judul pecahannya sendiri di Nintendo Game Boy Advance dengan nama Final Fantasy Tactics Advance.
Mulai Final Fantasy VIII, seri Final Fantasy menggunakan tampilan yang lebih foto-realistik. Seperti Final Fanasty VII, beberapa adegan full motion video menggunakan teknik di mana video dimainkan pada latar belakang sementara karakter-karakter polygon disusun di atasnya. Secara singkat Final Fantasy IX kembali menggunakan desain yang serupa dengan permainan-permainan awal dalam seri Final Fantasy tapi tetap mempertahankan teknik-teknik grafis yang digunakan dalam dua permainan sebelumnya.
Final Fantasy X dirilis pada PlayStation 2 dan memanfaatkan kekuatan perangkat kerasnya yang jauh lebih kuat untuk merender adegan-adegan secara waktu-nyata, dibandingkan menampilkannya dalam video yang telah selesai dirender. Selain itu, daripada menggunakan model karakter 3D yang bergerak di atas latar belakang diam, permainan ini menggunakan lingkungan 3D yang penuh, memberikannya tampilan yang jauh lebih dinamis. Ia juga merupakan permainan Final Fantasy pertama yang menggunakan sulih suara penuh di sepanjang permainan bahkan untuk banyak karakter-karakter dengan peran kecil. Aspek-aspek ini memberikan kedalaman dimensi yang baru untuk reaksi, emosi dan perkembangan karakter-karakternya. Final Fantasy X-2 menggunakan teknologi permainan yang sama dengan Final Fantasy X dan secara grafis tidak banyak berbeda.

Membuat perubahan singkat, Final Fantasy XI menggunakan kemampuan online PlayStation 2 sebagai sebuah MMORPG. Setelah awalnya dirilis untuk PlayStation 2 dan Microsoft Windows, Final Fantasy XI juga dirilis untuk Xbox 360. Versi Xbox 360 menyertakan perluasan Treasures of Aht Ughan pada 18 April 2006. Disc perluasan ini tersedia juga untuk PC dan PlayStation 2.
Final Fantasy XII dirilis tanggal 16 Maret 2006 di Jepang untuk PlayStation 2. Permainan ini hanya menggunakan setengah jumlah polygon pada Final Fantasy X agar dapat menggunakan pencahayaan dan tekstur yang lebih canggih. Permainan ini juga memungkinkan penggunaan kamera yang berputar.
Final Fantasy XIII dipamerkan pada E3 2006 dan diumumkan merupakan judul pertama dalam seri utama Final Fantasy yang menggunakan teknologi perangkat keras Blu-ray Disc (BD-ROM) PlayStation 3.
Permainan


Layar permainan

Permainan Final Fantasy umumnya memiliki beberapa jenis layar, atau modus interaksi, yang secara umum dikategorikan sebagai berikut:

  • Layar pertarungan — Pertarungan berlangsung pada jenis layar (atau arena) terpisah, biasanya dengan perubahan skala dan “arena” belakang yang mewakili lokasi dalam permainan di mana pertarungan tersebut terjadi. (Sebagai contoh, sebuah pertarungan acak yang terjadi di gurun pasir memiliki gurun pasir sebagai gambar latar.) Pertarungan-pertarungan yang berhubungan dengan alur cerita (berbeda dengan pertarungan acak melawan monster) biasanya memiliki arena/layar pertarungan yang dibuat secara khusus namun tetap terbatas dalam hal ukuran. Final Fantasy XII tidak lagi menggunakan “adegan-adegan pertarungan”; pertarungan terjadi langsung di layar lapangan.
  • Layar lapangan — Merupakan tempat utama di mana interaksi antar karakter berlangsung dan layar di mana sebagian besar petualangan dalam cerita terjadi. Dialog-dialog banyak ditampilkan pada layar-layar ini. Final Fantasy VII memberikan titik permulaan penggunaan grafik komputer yang realistis pada Final Fantasy, sementara Dragon Warrior tetap menggunakan grafik “cell-shaded” bergaya anime. Sebelum Final Fantasy VII, layar lapangan bersifat pseudo-orthographic, menggunakan teknologi 2D sederhana. Final Fantasy VII, Final Fantasy VIII dan Final Fantasy IX menggunakan latar belakang yang telah selesai dilukis dan dirender di mana di atasnya disusun model-model 3D. Final Fantasy X menggunakan sistem layar lapangan 3D penuh yang memungkinkan sudut kamera berubah mengikuti pergerakan karakter. Layar lapangan 3D digunakan kembali untuk Final Fantasy XI dan Final Fantasy XII namun dengan sistem kamera baru yang dapat diatur oleh pemain.
  • Layar dunia — Sebuah layar berskala kecil yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan jarak jauh dalam waktu cepat yang jika tidak digunakan bisa memperlambat permainan dan alur cerita. Ukuran dalam layar dunia biasanya tidak ditampilkan dalam skala yang proporsional di mana seorang karakter bisa tampil seukuran gunung yang kecil. Umumnya hanya sedikit alur cerita yang terjadi di sini tapi juga terdapat beberapa pengecualian. Layar dunia tidak lagi digunakan sejak Final Fantasy X.
  • Layar adegan — Pemutaran adegan-adegan yang tidak dapat diinteraksikan yang umumnya mengembangkan alur cerita. Adegan-adegan ini bisa dalam bentuk video yang sudah dirender (FMV) atau bisa dijalankan langsung permainan pada tiga modus tampilan di atas. Pada beberapa kasus, video yang sudah di”render” digabung dengan grafik-grafik pada layar lapangan yang dirender secara waktu-nyata (video-3D). Sebagai tamabahan, tutorial-tutorial dalam permainan biasanya menampilkan layar menu yang dijelaskan di bawah ini.
  • Layar menu — Layar ini digunakan untuk melihat status kelompok, peralatan, sihir, dan sebagainya. Layar ini biasanya dibuat dengan antarmuka tabel biru yang sederhana, dengan sebuah tangan bersarung untuk memilih opsi. Dalam beberapa permainan, terdapat juga opsi untuk mengubah warna atau tekstur tabel.

Di dalam permainan juga sering terdapat permainan mini dengan mesin grafik tersendiri.

Sistem pertarungan

Tangkapan layar sebuah pertarungan dari Final Fantasy IX. Gambar batang yang diperbesar menunjukkan sistem Active Time Battle yang sering digunakan dalam banyak judul dalam seri Final Fantasy.Final Fantasy pada awalnya menggunakan sebuah sistem berbasis giliran dan menu yang sederhana, namum judul-judul yang lebih baru telah berpindah menggunakan elemen yang lebih real-time atau semi real-time (dengan pengecualian Final Fantasy X) dan kemudian real-time dalam Final Fantasy XI dan Final Fantasy XII. Sebagian besar permainan menggunakan sistem level pengalaman untuk pengembangan karakter (walau Final Fantasy II dan Final Fantasy X tidak), dan sebuah sistem berbasis tunjuk untuk mengeluarkan ilmu-ilmu sihir (walau Final Fantasy, Final Fantasy III dan Final Fantasy VIII semua menggunakan pendekatan yang berbeda). Sebagian besar permainan dalam seri FF (mulai Final Fantasy III dan seterusnya) menampilkan variasi “perintah khusus” (di luar perintah pertarungan umum seperti “Serang”, “Bertahan”, “Sihir”, “Barang” dan “Kabur”), seperti kemampuan untuk mencuri barang dari musuh atau melakukan serangan lompat. Seringkali serangan-serangan khusus ini terintegrasi ke dalam “sistem peran”, yang hadir dalam banyak permainan dalam seri FF dan juga judul-judul sampingannya (Final Fantasy III, Final Fantasy V, Final Fantasy Tactics, Final Fantasy Tactics Advance dan Final Fantasy X-2).

Final Fantasy sampai Final Fantasy III menggunakan sistem pertarungan tradisional berbasis giliran. Pemain akan memasukkan seluruh perintah bertarung pada permulaan tiap ronde pertarungan yang lalu akan dijalankan sesuai dengan tingkat kecepatan dari tiap peserta di dalamnya. Mulai Final Fantasy IV sampai Final Fantasy IX (lalu digunakan kembali pada Final Fantasy X-2), digunakan sistem “Active Time Battle” (ATB). Sistem ATB bersifat semi waktu-nyata dan memberikan sebuah penghitung waktu kepada tiap peserta dalam pertarungan. Saat penghitung waktu sebuah karakter terisi penuh, karakter tersebut akan dapat beraksi yang kemudian akan mengembalikan kembali penghitung waktunya ke keadaan kosong. Umumnya tiap permainan memiiki baik modus “aktif” dan “menunggu”; saat modus “menunggu” dipilih, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan penghitung waktu akan berhenti saat pemain menggunakan menu untuk memilih sihir, barang atau serangan khusus. Dalam modus “aktif”, penghitung waktu akan terus berjalan walau pemain tengah menggunakan menu yang memungkinkan serangan-serangan tetap dilakukan sementara pemain sedang memilih perintah.

Final Fantasy X melepas penggunaan sistem ATB untuk sebuah sistem bernama “Conditional Turn-based Battle” (CTB). Pada sistem CTB, tiap peserta dalam pertarungan akan diurut berdasarkan kecepatannya. Urutan ini ditampilkan pada layar yang memungkinkan untuk diketahuinya giliran aksi karakter dan atau musuh dalam pertarungan sehingga strategi yang sesuai dapat diatur. Karena sistem CTB murni merupakan basis-giliran, penghitung waktu tidak dihadirkan. Sistem ini juga digunakan pada judul-judul pecahan Final Fantasy Tactics dan Final Fantasy Tactics Advance walau menggunakan istilah lain.

Final Fantasy XI menggunakan sistem “Real Time Battle” (RTB). Bebeda dengan permainan-permainan dalam seri Final Fantasy sebelumnya, karakter-karakter tidak lagi berdiri diam sembari menunggu giliran untuk menyerang. Pertarungan terjadi dalam waktu-nyata di mana karakter-karakter bisa bergerak dengan bebas. Setelah memilih sasaran musuh, karakter akan otomatis melakukan serangan-serangan fisik yang dasar kecuali diinstruksikan oleh pemain untuk melakukan aksi lain melalui perintah-perintah berbasis menu. Namun berbeda dengan pukul-tebas dalam MMORPG, kecepatan serangan, tingkat pukulan dan mengelak dari karakter ditentukan oleh sistem statistik permainan, bukan masukan dari pemain.

Final Fantasy XII menggunakan sistem pertarungan yang mirip dengan Final Fantasy XI, bernama sistem “Active Dimension Battle” (ADB). Sistem ini mirip dengan sistem RTB di mana karakter-karakter dapat bergerak bebas selama pertarungan dan setelah menentukan target musuh, karakter akan otomatis melakukan serangan-serangan fisik yang dasar. Namun, selain itu juga ada sebuah penghitung waktu mirip sistem ATB yang memperlihatkan kapan seorang karakter dapat beraksi. Modus-modus “aktif” dan “menunggu” juga digunakan kembali. Tambahan penting lainnya untuk sistem pertarungan pada permainan ini yaitu sistem Gambit, di mana kecerdasan buatan (AI) anggota kelompok dapat diatur agar dapat secara otomatis melaksanakan perintah-perintah tertentu tanpa menunggu masukan dari pemain.

Berbeda dengan permainan-permainan sebelumnya, pertarungan dalam Final Fantasy XI dan Final Fantasy XII akan terjadi langsung di layar lapangan, tanpa layar pertarungan terpisah yang diakibatkan oleh “pertarungan acak”.

‘CR7 Terlahir untuk Mencetak Gol’
Boy Leonard Pasaribu
Cristiano Ronaldo
(yahoosports.com)

INILAH.COM, Madrid – Penjaga gawang Real Madrid, Iker Casillas, membela rekan setimnya yang tengah mendapat sorotan media Spanyol, Cristiano Ronaldo. Menurutnya, CR7 terlahir untuk mencetak gol.

Kiper Timnas Spanyol itu berkomentar mengenai penampilan CR7 di awal musim ini dan juga penampilan timnya secara keseluruhan di bawah arahan pelatih baru, Jose Mourinho.

Mengenai Ronaldo, Casillas berujar, “Cristiano Ronaldo mungkin egois, tetapi itu karena dia memang terlahir untuk mencetak gol. Saya takkan mengalami, atau punya, atau akan mengalami masalah dengan Ronaldo, karena dia adalah jagoan yang hebat.”

“Real Madrid sangat penting bagi kami sehingga kami mengobrol tentang apapun. Di ruang ganti, kami seperti keluarga,” ungkapnya.

Mengenai Mourinho, ia berkomentar, “Dia adalah orang yang terbuka dan punya gagasan sendiri. Kami semua berusaha mencari yang terbaik untuk tim. Kami punya hubungan yang fantastis dengannya dan semua pemain sangat menghormatinya.”

Casillas lalu berbicara mengenai penampilan cemerlang calon penerusnya di Timnas Spanyol, David De Gea, dari Atletico Madrid.

”Semua orang melihatnya dan menyadari kemampuannya. Saya tak kenal dia secara pribadi tetapi dia tampil dengan sangat baik. Saya ingat melihat dia baru pertama tampil, dan kami harus menjaganya karena karirnya masih panjang,” tegasnya.

Cristiano Ronaldo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini bukan mengenai Ronaldo.
Cristiano Ronaldo
CRonaldo.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkap Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro
Tanggal lahir 5 Februari 1985 (umur 25)
Tempat lahir Funchal, Madeira, Portugal
Tinggi 1.86 m (6 ftin)[1]
Posisi bermain Sayap kanan, Penyerang
Informasi klub
Klub saat ini Real Madrid
Nomor 9
Klub junior
CF Andorinha
CD Nacional
Sporting CP
Klub senior1
Tahun Klub Tampil (Gol)
2001–2003
2003–2009
2009–
Sporting CP
Manchester United
Real Madrid
025 0(3)
292 (118)
Tim nasional2
2003– Portugal 061 (21)
1 Penampilan dan gol di klub senior
hanya dihitung dari liga domestik dan
akurat per 22:14, 14 Januari 2009 (UTC).
2 Penampilan dan gol di tim nasional
akurat per 18:32, 26 Desember 2008 (U

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro (lahir di Funchal, Madeira, Portugal, 5 Februari 1985; umur 25 tahun) adalah seorang pemain sepak bola asal Portugal. Ia dikenal sebagai pemain sayap dari Manchester United dari 2003-2009 sebelum pindah ke Real Madrid pada 1 Juli 2009 dengan memecahkan rekor transfer sebesar 80 juta poundsterling menjadikannya sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola. Ia biasa bermain sebagai sayap kiri atau kanan serta penyerang tengah. Ia mulai dipanggil ke Timnas Portugal sejak tahun 2003.

Ronaldo Lahir di Madeira, Portugal, anak dari Maria Dolores dos Santos Aveiro dan José Dinis Aveiro. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Hugo, dan dua kakak perempuan, Elma dan Liliana Cátia. Liliana Bekerja sebagai penyanyi dengan nama panggung “Ronalda” di Portugal.[rujukan?] Nama kedua yang diberikan kepada Cristiano (“Ronaldo”) relatif langka di Portugal.[rujukan?]

Ronaldo adalah pemain sepak bola yang dapat bermain dengan kedua kakinya[rujukan?], yang membuat dia dapat bermain di mana saja: kanan, kiri atau melalui tengah. Ini mengakibatkan Ronaldo dan rekannya sesama pemain sepak bola di Manchester United Ryan Giggs dapat saling bertukar posisi.

Ronaldo memiliki kemampuan teknik yang hebat.[rujukan?] Di samping gerakan multi step-over, dia juga mengembangkan banyak kemampuan lainnya, membuat dia sangat lincah dan sebagai pemain sayap yang tidak dapat diprediksikan gerakannya. Disamping kemampuan mengolah bolanya yang luar biasa, dia juga piawai dalam mengeksekusi bola-bola mati, itulah yang membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling berbahaya bagi lawannya, dia dapat mencetak gol dengan cara apapun.

Seperti dilansir dari The Daily Mail, ibu dari anak Ronaldo tersebut adalah seorang wanita Amerika yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.

Bayi tersebut hasil hubungan intim ‘One Night Stand’ Ronaldo dengan wanita yang belum diketahui namanya tersebut.

Sebelumnya, diyakini, CR9 membayar seorang wanita untuk menjadi ibu pengganti agar dia punya anak.

Mantan pemain Manchester United ini menjadi seorang ayah, 17 Juni silam, dua hari setelah Portugal melawan Pantai Gading di Piala Dunia.

Kini, The Sunday Mirror mengklaim, Ronaldo bertemu dengan seorang wanita di sebuah restoran Los Angeles.

Visual Kei merupakan penggabungan dari kata Visual(bahasa Inggris), dan Kei(bahasa Jepang) yang mempunyai arti ‘gaya’. Jika komunitas Punk berasal dari London, maka Visual kei berasal dari Jepang. Visual Kei mengacu pada sebuah gerakan dalam J-Rock yang populer pada sekitar tahun 1990-an. Gerakan ini ditandai dengan band yang mengenakan kostum dramatis dan imej visual untuk memperoleh perhatian. Di Jepang, penggemar band Visual Kei sebagian besar hampir selalu terdiri dari gadis remaja dan dipasarkan secara luas dalam bentuk merchandise anggota band itu sendiri. Di negara-negara lain, perbandingannya kecil secara kuantitas antara penganut Visual Kei kira-kira keseluruhan antara remaja putra dan putri.

Anggota band Visual Kei sering memakai make up yang mencolok, dengan gaya potongan rambut yang dramatis, yang mengingatkan pada “pita rambut” tahun 1980-an dan memakai kostum yang sangat rumit. Walaupun sebagian besar musisi adalah laki-laki. Anggota band sering bermake up dan memakai pakaian yang dapat dianggap sebagai feminin atau androgynous. Pada akhirnya sebagian band kembali pada image warna – warni dan fantastik yang populer sekitar 5 tahun lalu yang diinspirasi game RPG dan anime. Daya tarik kostum pada fans adalah dengan ditunjukkan oleh para gadis yang berpakaian cosplay sebagai anggota band favorit mereka, secara terpisah pada konser di Jepang, di Amerika pada acara-acara anime.

Band visual kei yang diartikan sebagai yang utama dari gaya visual, tidak mengacu pada jenis musik tertentu. Mereka sebagian memainkan musik rock, hard rock seperti Luna Sea, Dir en Grey, Penicillin, Due’le Quartz, Plastic Tree, musik gothic dan neoclassic seperti Malice Mizer, Moi Dix Mois, Rentrer en Soi, D’espairs Ray dan Phantasmagoria, Light Rock dan Pop seperti L’Arc~en~Ciel, Glay, Shazna dan musik heavy metal dan Ballad seperti X Japan, Loudness, Buck- Tick, Sex Machine Gun, selain itu musik industrial, punk, dan techno kadang – kadang juga masuk ke dalamnya. Dengan mengambil genre dalam arti yang luas, sebagian besar memutuskan memainkan beberapa jenis musik rock.

Pengamat barat seringkali kebingungan dalam membedakan Visual Kei Band dengan Band Gothic karena kadang-kadang penampilannya yang mirip dalam bermake up dan berpakaian, tetapi sebagian gothic Jepang tidak bisa memasukkan visual Kei menjadi Gothic, dan disana ada persilangan budaya kecil antara Visual Kei Jepang dan Gothic Jepang diluar model gothic lolita, yang mana dipengaruhi oleh subbudaya gothic. Secara luas gerakan ini telah dimulai oleh X Japan pada tahun 1980-an, yang mengangkat tren dari pemanfaatan visual shock untuk memperoleh pengakuan dalam kancah musik independen. Beberapa band visual Kei yang telah terkenal antara lain L`Arc~en~Ciel(walaupun sekarang mereka telah meninggalkan penampilan visual mereka), Dir en Grey, the GazettE, Alice Nine, Kagrra, Kra, Malize Mizer, X Japan, Due’le Quartz, Luna Sea, Vidoll, Versailles, exisTrace, SADS, Lolita23q, 12012, ScReW, SuG dan sebagainya. Saking banyaknya band yang sukses karena menggunakan penampilan visual kei, di Jepang-pun tumbuh kepercayaan di kalangan komunitas band, jika ingin sukses dalam bermusik, sebaiknya pada awal debut hendaknya menggunakan penampilan visual kei.

Belakangan ini, di indonesia merebak demam visual kei. Tiap kali ada event acara Jepang, para pecinta visual kei seringkali melakukan cosplay dengan memakai kostum yang dikenakan oleh band kesukaan mereka dalam PV(promotion video) ataupun dalam photobook. Bukan hanya cosplayers saja yang makin menjamur di Indonesia, band beraliran visual Kei juga mulai bermunculan di Indonesia seperti Pink Cherry, C’est A Dire dan masih banyak lagi. Kebanyakan band visual kei tersebut menyanyikan lagu-lagu milik Dir en Grey, L`Arc~en~Ciel, the GazettE, Miyavi dsb.

Diharapkan dengan banyaknya band bisual kei di Indonesia dapat merubah setidaknya corak musik Indonesia yang terkesan monoton menjadi lebih berwarna dan lebih menggigit. Untuk para pemain band visual kei Jepang, saya hanya bisa memberikan 2 thumbs up untuk mereka karena musik mereka benar2 membuat saya tergila-gila dengan musik yang mereka ciptakan dan yang mereka mainkan.

THE STORY

Sejarahnya:

Sejarah yang “melahirkan” adanya Visual Kei sebenarnya bermula saat Jepang mengalami perubahan besar-besaran usai Perang Dunia II. Saat itu ada suatu komunitas yang ‘terbuang’ dari masyarakat. Komunitas ini tidak hanya berbicara melalui mulut dan tulisan, tapi juga lewat penampilan. Komunitas yang mayoritas terdiri dari kaum adam itu tampil dengan mengenakan berbagai macam aksesoris dan berdandan maupun berperilaku layaknya perempuan. Lewat apa yang mereka pakai, mereka berbicara tentang segala hal. Mulai dari politik, segala under pressure, hingga masalah-masalah psikologis. Namun seiring dengan perubahan zaman, komunitas ini perlahan-lahan mengalami “mati suri” hal ini dikarenakan banyak orang Jepang yang lebih memilih bunuh diri untuk menyelesaikan masalah, daripada tenggelam dalam penderitaannya sendiri.


Masa Kebangkitan (1988-1991)

Banyak yang berpendapat Visual kei dipelopori oleh X Japan. Dapat dikatakan X Japan lah yang telah mengangkat ide visual ke hadapan publik, jauh sebelum ledakan musik jenis gothic/metal/rockhybrid yang akhirnya dikenal dengan nama Visual kei di tahun 90an. Band yang ikut memberi masukan di era ini adalah Bucktick, X japan, Derlanger, dan banyak lagi yang sebagian besar didominasi oleh artis-artis di bawah label Extasy.


Masa Keemasan (1991-1996)

Di tahun 1991 muncul Kuroyume, L’Arc~en~Ciel, dan Luna sea. Visual kei mulai mempunyai esensi musiknya sendiri yang lebih menghibur. Musik L’Arc~en~Ciel dan Luna sea tidak bergaya gothic rock tetapi lebih bernuansa mistikal, sebagai pernyataaan gaya individual mereka. Diikuti dengan munculnya Kuroyume yang dalam 8 tahun kedepan mempertegas gaya musik visual kei, dimana diikuti dengan kemunculan band-band besar lainnya seperti Dir en Grey dan Laputa. Band besar lainnya di era ini adalah Malice Mizer, Pierrot, dan Shazna, yang masing-masing memegang fungsi tersendiri dalam Visual kei. Seperti Malice Mizer menggunakan gitar kembar dengan orientasi musik, Pierrot dengan hardrock yang melodik sedangkan Shazna adalah Visual Kei dengan cita rasa pop. Band-band ini menghasilkan paling tidak seebuah album klasik Visual kei dalam periode ini, dan banyak diantaranya yang mencapai sukses, bahkan menandatangani kontrak dengan major label. Sebenarnya tidak ada suatu kejadian yang benar-benar memulai kejatuhan Visual kei, tetapi pada saat band-band pentolan mulai major, saat itu aliran mainstream (aliran utama) mulai digemari dan mereka mengadapatasi aliran baru ini. Sedangkan band-band Visual kei baru kebanyakan hanya klon/jiplakan dari band-band besar sebelumnya.


Masa Diam/Stagnan (1997-2001)

Era ini hanya menghasilkan band-band yang biasa saja. Adalah masa dimana label matina dengan band-bandnya seperti Mirage, Lamiel, Lamule, Kagerou, D’espairs Ray, dan yang lainnya mengisi kekosongan karena ditinggalkan band generasi pertama.
Pada saat itu band Visual kei sudah memiliki industri yang mendukung musisi. Musisi yang lumayan baik tidak diperkenankan untuk keluar, seperti Kisaki dari band Mirage, dan band-band baru pun lahir dan menghilang. Bahkan band yang sudah mulai mencapai kesuksesan pun memilih untuk bubar pada era ini dan band yang mengaku beraliran Visual kei mulai berkurang.
Di sisi lain era ini adalah era paling komersial bagi Visual kei. Industri musik (seperti perusahaan rekaman) mendorong (atau sebenarnya mengeksploitasi) banyak band-band baru dan band generasi pertama untuk mengeluarkan album dengan penjualan terbesar, seperti album kompilasi/kumpulan single terbaik.
Selain itu juga di era ini adalah masa dimana munculnya gerakan/tarian dan hal iseng lainnya yang tidak berhubungan dengan musik.
Band bagus yang dihasilkan di era ini adalah David Shito’al, yang sukses bereksperimen dalam kerangka musik Visual kei; Velvet eden, satu band yang memasukkan unsur elektronik dalam format rock/pop Visual kei; dan Fiction, mungkin band Visual kei yang paling “gothic” yang menelurkan satu album dengan melodi romantic sebelum akhirnya sang vokalis memilih untuk bersolo karir.


Masa Kemunduran (2002-2006)

Milenium baru tidak memperbarui aliran Visual kei, tetapi terlihat perubahan dalam musik berkaitan dengan industri. Beberapa band seperti Baroque dan MUCC, menemukan jalur baru dengan lagu yang terinspirasi gaya punk/hardcore (jadi segi Visual kei mereka lebih kepada penampilan). Band seperti Dir en Grey yang awalnya merupakan gambaran Visual kei telah meninggalkan gaya tersebut, dan lebih ke arah numetal dan sebagainya.
Industri Visual kei semakin eksis di jepang, namun band-band tersebut ada yang berubah, ada juga yang mati suri. Hal ini tidak terlalu mengherankan karena sebagai suatu aliran, Visual kei sebenarnya tidak memiliki banyak visi selain dari beberapa band pentolan, ketika mereka telah kehilangan masa keemasannya, Visual kei secara keseluruhan juga menghilang. Dan lagi bukan dikarenakan kurangnya popularitas yang menjatuhkan aliran Visual kei, tapi kurangnya kualitas dan inovasi.


Masa Revival (2007-sekarang)

Masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari segi musik Visual kei tidak ada banyak perubahan, sedangkan dari penampilan atau stylenya banyak memunculkan inovasi baru dalam hal dandanan. Tentu saja style menjadi bagian terpenting di Visual kei, karena hal itulah yang menjadi ciri khas dari band visual itu sendiri.
Seiring dengan perkembangannya hingga sekarang, Visual kei yang sudah mendapat tempat di hati penggemar, keberadaannya semakin diakui dan diminati oleh banyak kalangan di manca negara. Hal ini yang mendorong band-band tersebut untuk lebih melirik pangsa pasar musik di Eropa dan Amerika khususnya. Sebut saja band-band sekelas MUCC, Dir en Grey, Kagerou, D’espairs Ray, dll yang banyak melakukan tur dan konser di luar Jepang atau bahkan hanya sekedar tampil sebagai bintang tamu di sebuah event anime & COsplay.
Perkembangan Visual kei di luar Jepang juga didukung oleh tersedianya label yang memproduksi CD/DVD band-band Visual walaupun dalam versi Eropa dan sebagainya.
Industri musik Visual kei saat ini juga diwarnai oleh munculnya trend dimana band yang sudah bubar muncul/hidup kembali dengan mengadakan revival live.

Trend baru ini bukan saja terjadi pada band besar seperti Luna sea yang menjadi pelopor acara revival dimana mereka sukses menggelar live pada malam natal tahun 2007 dan merilis album tribute to Luna sea yang menampilkan sejumlah artis dan band kenamaan. atau juga band legenda X Japan yang sangat sukse menggelar revival live yang diadakan selama tiga hari di awal tahun 2008. Bahkan band ini kemudian melakukan turnya ke berbagai negara.
Trend ini pun melanda sebagian kalangan band indies lainnya yang ikut-ikutan dan tidak mau kalah dengan para senior mereka seperti Phantasmagoria, Eldorado, Death Rabbits, Vier la Drain, dan sebagainya. Bukan hanya sekedar revival live, namun single atau album lama pun banyak yang dirilis ulang dan bahkan hingga meluncurkan photobook.